Juku’ Pallu Ce’la Bile’ (Ikan Asin Kaleng) Di Galesong
Di Galesong, Makanan yang satu ini, adalah salah satu makanan khas Suku Makassar, namun jenis makanan ini banyak saya jumpai di daerah pinggiran pantai Galesong Raya (Kecamatan Galesong, Galesong Utara, dan Galesong Selatan).
Dari sumber wawancara salah satu tokoh Masyarakat Galesong, Daeng Nappa bahwa jenis makanan Pallu Ce’la Bile’ (dalam bahasa Indonesia ikan asin yang diletakkan di dalam kaleng) ini telah ada sejak tahun 1930 silam. Dan mulai banyak di konsumsi masyarkat pada tahun 1960 an di Galesong.
Proses pembuatan makanan khas jenis ini, boleh dikatakan gampang-gampang susah karena proses pembuatannya perlu ketelitian salah satunya dalam memberikan takaran garam dan bumbu kunyitnya. Ikan yang digunakan pun harus ikan segar yang baru diangkat dari laut.
Keterangan : Foto Ikan Pallu Ce'la Bile (Ikan Asin Didalam Kaleng)
Pertama kali, ikan Pallu Ce’la ini di tahun 1960 an masih digunakan satu jenis ikan saja yakni orang Galesong menamakannya ikan sibula’ atau ikan sarden (latin : Clupeidae). Namun seiring perkembangannya jenis makanan ini sudah bervariasi jenis ikannya diantaranya adalah jenis ikan cakalang, ikan layang (latin: Detapterus Pusailus), ikan bolu/bandeng (latin: Chanos), dan ikan tembang (latin : Sardinella Gibbosa).
Jika pembuatan dengan menggunakan tempat dari sebuah kaleng biskuit dan sejenisnya, biasanya orang Galesong dalam memberikan bumbunya itu dengan cara berlapis-lapis. Contohnya setiap menyusun ikannya satu tingkatan kemudian diberi bumbu garam dan kunyit, lalu disusun lagi diatas tumpukan ikan pada lapis pertama itu dengan cara yang sama dari awal dan juga diberikan diatasnya ikan hingga kalengnya terisi penuh.
Setelah ikan sibula tersebut tersusun rapi didalam kaleng, selanjutnya ditekan kebawah ikannya dengan tujuan agar bumbu yang telah ditaburi itu dapat meresap kedalam ikannya. Ikan yang ada di dalam kaleng itupun diberi air laut sebagian dan tidak menggunakan air biasa karena penyampaian masyarakat itu tidak jadi jikalau tidak menggunakan air laut sebagian. Lalu ditutup rapat hingga bumbunya meresap kedalam ikannya.
Keterangan : Salah satu kaleng yang digunakan untuk menaruh Ikan Pallu Ce'la Bile (Ikan Asin Didalam Kaleng)
Juku’ Pallu Ce’la Bile ini mampu bertahan selama sebulan lamanya. Dari penulusuran penulis dan mengambil keterangan dari beberapa warga Galesong, bahwa jenis makanan ini awalnya dibuat oleh warga pulau Langkai dan Pulau Kodingareng sekitar tahun 1930 an.
Makanan ini dari salah satu sumber, menjelaskan bahwa makanan jenis ini kemudian pertama kali dibawa ke daratan Galesong oleh warga yang bernama I Bandoe asal Maros yang tinggal di Pulau Bontosua dan juga sumber lain menyebutkan warga bernama I Nippong Daeng Nai asal Dusun Kampung Beru Desa Pa’lalakkang bersama rekannya Daeng Kulle pada tahun 1960 an.
Kaleng makanan Juku’ Pallu Ce’la ini setelah ikannya sudah habis yang berisi ikan, pada tahun 1960 an itu kemudian warga biasanya menjadikan timba di sumur karena ketebalan kaleng saat itu bagus menurut warga.
Keterangan : Ikan Pallu Ce'la Bile (Ikan Asin Didalam Kaleng) tampak kelihatan airnya/kuahnya.
Pada tahun 1960 an, harga Juku’ Pallu Ce’la Bile’ ini dijual dengan harga Rp. 15 saat itu, dan harga makanan ini sudah seharga Rp.250.000,- sampai Rp.300.000,- perkalengnya dengan jumlah ekornya hampir capai 100 ekor ikan sibula/ikan sarden.
Sungguh, penulis sangat menyukai makanan Pallu Ce’la Bile ini terutama dari jenis Ikan Sibula/Ikan Sarden yang saat disantap sampai lupa berhenti, mungkin karena cita rasa didominasi asin ini hingga rasa ingin terus makannya terasa di lidah.
Penulis : Kemal Syam (TSG)



Comments
Post a Comment